Bukittinggi

Mei 07, 2015
Kota Bukittinggi merupakan kota terbesar kedua di Sumatra Barat, Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, dan Bukittinggi juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatera Tengah.

Bukittinggi pada masa kolonial Belanda disebut dengan "Fort De Kock"  dan dahulunya dijuluki sebagai Parijs Van Sumatra selain kota Medan. Kota ini merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, diantaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat, yang masing-masing merupakan Proklamator dan Pejabat Presiden Republik Indonesia.

Selain sebagai kota perjuangan, Bukittinggi juga dikenal sebagai kota Wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban, Negri Sembilan, Malaysia. dan tempat wisata yang sering dikunjungi adalah Jam Gadang yang merupakan ikon dari kota ini.

Sejarah Terbentuknya Kota Bukittinggi

Kota Bukittinggi sebelumnya merupakan pasar bagi masyarakat Agam Tuo,kemudian setelah kedatangan Belanda, kota ini menjadi kubu pertahanan Belanda untuk melawan kaum Padri. Pada tahun 1825 Belanda mendirikan benteng di salah satu bukit dikota ini, yang mana sekarang tempat ini dikenal dengan Benteng Fort De Kock. Sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi stadsgemeente (Kota) , dan juga berfungsi sebagai ibu kota Affdelin Padangsche Bovenladen dan Onderafdeeling Oud Agam. 

Kemudian pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand, Kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke-25 kampetai, dibawah pimpinan Mayor Jendral Hirano Toyoji. kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgeemente Fort De Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari disekitarnya,

Setelah kemerdekaan indonesia Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatra, dengan Gubernurnya Bapak Teuku Muhammad Hasan. Kemudian bukittinggi juga ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan keputusan Gubernur Provinsi Sumatera no 391 tanggal 9 Juni 1947.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukittinggi berperan sebagai kota perjuangan, ketika pada tanggal 19 Desember 1948 kota ini ditunnjuk sebagai Ibu Kota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dikemuidian Hari, Peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara.



Jam Gadang yang merupakan peninggalan masa penjajahan Hindia-Belanda yang dijadikan icon dari Kota Bukittinggi



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »